Ramadhan kali ini, juga begitu..
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Awal puasa begitu menegangkan, begitu seru.
Sahur, buka, dan tarawih bakal menjadi kebiasaan sebulan
kedepan.
Kadang, lapar dan haus bukan menjadi sesuatu yang berat..
Kebahagiaan tersendiri malah..
Dan kalau buka, jangan tanya seganas apa kita melahap makanan.
Itu dulu..
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Di sekitar rumah saya, menjelang tarawih, orang dewasa bersiap
ke langgar.
Biasanya, langgar yang imamnya cepat akan ramai.
Untuk anak-anak kecil? Hmm..
Kami membentuk geng, dengan sarung disampirkan seadanya, berbuat
keonaran.
Ramai di belakang langgar, saling kejar dan tertawa.
Kalau sudah begitu, ending-nya adalah diburu petugas ta’mir. Lari
kocar-kacir.
Besok, kami ulangi lagi.
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Dulu, kami berburu mercon (petasan).
Ya, mercon. Ada banyak sekali macamnya.
Sleng-dor, gangsing, air mancur, kembang api, kupu-kupu, bahkan
tahi.
Semakin mahal mercon yang dipegang, makin “keren”-lah
derajatnya.
Menyenangkan sekali melihat mercon tersebut meledak.
Sulut api, lempar, tutup telinga… cessss…. DHUAAARR!!
“HAHAHA..…,” sambil berlari panik melihat para pemilik rumah
keluar.
Dan kami semua akan melongo kagum, dengan mulut terbuka.
Ketika seorang kawan membawa mercon yang besar, besar sekali.
Siapa tak tahu? Mercon itu bisa mengeluarkan ledakan hingga dua
puluh kali!
Dengan ledakan warna-warni di langit, sangat asyik melihatnya.
Sekarang, kami sudah besar.
Bernostalgia rasanya melihat anak tetangga bermain mercon.
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Di pondok kami, Ma’had Tahfidh Al-Qur’an PP. Al-Amien, tak kalah
heboh.
Selalu saja ada keceriaan saat mengikuti lomba-lomba yang
diadakan.
Mulai dari qori’, nasyid, adzan, grebek sahur, hingga drama
islami.
Ketika utusan shof maju, kami akan sibuk beryel-yel ria.
Berteriak menyanyikan yel-yel sampai suara habis. Serak jadinya.
Ah, dulu waktu kelas satu, ada beberapa anak yang memang nakal.
Mereka mokel minum air keran, “sst.., jangan bilang-bilang,”
katanya.
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Saat puasa di rumah, kami akan senang tak terkira.
Rasanya bagai di surga.
Setiap berbuka, bisa tiga ronde.
Ta’jil saat maghrib, makan berat setelahnya, dan tarawihnya
sempoyongan.
Jangan lupa habis tarawih, semua makanan di dapur bisa habis.
Ajang balas dendam, itu dulu…
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Kami mulai sadar seiring bergantinya tahun demi tahun.
Mulai belajar untuk lebih tulus beribadah, ikhlas dalam beramal.
Mengusahakan membaca Al-Qur’an sesering mungkin.
Tidak lagi mengeluh saat tarawihnya duapuluh rakaat.
Berusaha menahan kantuk yang luar biasa dan dingin menusuk
tulang,
demi bisa shalat Subuh jama’ah di langgar.
Sebisa mungkin untuk selalu melakukan kebaikan..
Namun,
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Acara siaran di tivi seakan bermanuver nasional.
Dua minggu sebelum puasa, goyang dangdut masih jadi favorit.
Menjelang puasa, mulai sopan dalam berpakaian…
Acara tausiah mendadak bergaung-gaung disiarkan.
Kuis Ramadhan, acara sahur, hingga iklan marjan.
Lihat sebulan sehabis puasa, gosip artis kembali merajalela.
Penyanyi ibukota berpakaian minim seakan bangkit dari tidurnya..
Miris hati menyaksikan itu semua..
Namun,
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Bagi pemilik gurita bisnis, ini adalah ajang meraup keuntungan
dalam bentuk lain.
Semua operator seluler berlomba menawarkan tarif menarik untuk
telpon dan sms.
Produk lainnya memberi kupon berhadiah mudik garatis.
Perusahaan besar multinasional melakukan pencitraan melalui
program buka bersama.
Bagi mereka, Ramadhan tidak lain sebagai ajang bisnis.
Ah, ingin rasanya sebagai konsumen kita mengkritiknya..
Namun,
Tidak seperti yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini lain..
Ada ajang politik disini..
Pemilu dilakukan di awal puasa..
Kami takut, banyaknya orang yang melakukan suap-menyuap,
ketidakjujuran,
akan menodai Ramadhan kali ini..
Ingin rasanya memilih pemimpin yang “benar” bagi bangsa ini.
Agar mampu membangkitkan bangsa ini dari keterpurukannya.
Semoga…
Kawan…
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Tak ada untungnya kita terus menyalahkan pemerintah..
Sangat tidak baik jika kita terus membincangkan keburukan para
pemimpin..
Mengeluh saja tidak akan membawa perubahan
Sejatinya,
memilih pemimpin itu bukan saat kita memilih orangnya..
Tapi saat kita yakin dan siap dipimpin orang tersebut..
Moga saja dengan berkah Ramadhan, kita mendapatpemimpin yang
baik.
Pemimpin jujur, adil, bersahaja, dan..
mampu membawa bangsa ini lebih baik lagi..
Kawan…
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Kami harus melakukan perbaikan mulai dari diri sendiri..
Evaluasi pada setiap hari yang dilalui,
untuk semakin berkualitas..
Ibarat aplikasi Android yang diunduh dari Play Store,
kadang-kadang juga memerlukan pembaharuan..
Pun juga, raga dan jiwa ini, pikiran serta hati,
sangat memerlukan pembaharuan untuk menjadi lebih baik..
Kawan…
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Kita begitu bersemangat untuk terus melakukan hal baik,
sepanjang hari, tiada henti..
Berusaha menjadikan diri kita sebagai alasan terkuat,
bagi keluarga dan sahabat untuk terus berbahagia..
Seperti bulan puasa yang sudah-sudah, Ramadhan kali ini juga
begitu..
Kita semua–saya, anda, dan mereka-, paham betul..
Hakikat sebuah kebahagiaan sejati..
Semoga…
Salam Ramadhan ala Saya..
*Tersenyumlah bila Anda sependapat..

Komentar
Posting Komentar