Langsung ke konten utama

Postingan

Curhat Seorang Kawan

            Kawan, aku punya cerita... Petang itu, semilir angin masih mau menyapa tempat saya duduk di belakang mushala Ma’had Tahfidh Al-Qur’an Al-Amien Prenduan, masih di bumi Madura tentunya. Semburat merah jingga sudah hilang ditelan waktu, menandakan malam akan tiba. Beberapa santri terlihat masih serius berkutat dengan ayat-ayat al-qur’an, sebagian lainnya memilih untuk melamun. Rasa syukur menyeruak, mengingat masih mampu menikmati dinamika kehidupan yang lekat dengan al-qur’an dan kesempatan untuk merenungi maknanya. Saya masih terduduk dengan mushaf di tangan, sembari membacanya perlahan. Sambil menikmati suasana petang itu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh teman satu angkatan (kelas akhir) yang duduk di samping saya. Menatap saya lekat, seraya berkata “Vis, gimana nih? Aku bingung. Aku ngerasa berat dalam hal ngulang hafalanku. Satu halaman aja butuh konsentrasi tinggi, susah pokoknya.” “Kamu target selesa...

Sejuta Semoga

Kakak perempuan saya, Bilqis F. Nabilah, pernah mengungkapkan perspektifnya terkait tentang maraknya penyebaran penyakit HIV/AIDS di Indonesia. Yang bikin saudari saya geram adalah bagaimana pemerintah ingin meyelesaikan problematika tersebut dengan cara yang tidak bisa dibilang cerdas: menyelenggarakan Pekan Kondom Nasional (PKN). Semua orang, anda pun juga, pasti tahu, memberikan kondom gratis dalam jumlah besar pada masyarakat luas sama saja dengan membuka gerbang “Selamat Datang” pada prostitusi. Hmmm… prostitusi di negeri ini sudah cukup parah, pak menteri, jangan malah diperparah! Berikut tulisan kakak perempuan tercinta saya.  Semoga memberi inspirasi! Sejuta Semoga (Jawaban saya atas Pekan Kondom Nasional) 6 Desember 2013 pukul 0:08 Ah, mungkin saya hanya latah menulis. Ikut-ikutan menulis dan cuap-cuap tentang Pekan Kondom Nasioanal (PKN). Tapi, bagaimana lagi? Saya sudah nggak tahan melihat berita-berita yang simpang siur di TV. ...

Harapan Saya, Anda, dan Mereka di Pergantian Tahun Ini

Waduh, hampir saja kelupaan. Muncul satu pertanyaan skeptis yang sudah basi dibahas: apakah   peran tahun baru? Seperti tidak ada pertanyaan cerdas lain saja. Jawabannya sebenarnya jelas, namun perlu sedikit pemikiran yang komprehensif dalam pengaplikasiannya. Tentu saja, Anda pun tahu, dalam menyambut malam tahun baru semua pihak seakan berlomba-lomba untuk menggelontorkan uangnya. Berbagai kebutuhan yang dirasa “kurang penting” diborong demi mendapatkan satu faktor: prestise. Seluruh hotel dan kawasan pariwisata berhias denngan segala aksesorinya. Para petinggi pemerintahan lokal maupun swasta dengan semangat membuat iklan dengan foto mereka yang besar dan tulisan “Selamat Tahun Baru” di bawahnya. Jejaring sosial dipenuhi oleh ungkapan-ungkapan senada. Anak kecil hingga dewasa, laki maupun perempuan, sibuk membeli kembang api dan terompet. Media cetak sampai elektronik, baik Koran, web, televisi, radio, menyajikan berita terkait artis ternama bagaimana dia merayakan malam t...