Langsung ke konten utama

Cerita Sederhana tentang Hutan Rimba



       
         Kawan, jika kau belum tahu, tahun ini sepertinya akan heboh oleh dua hal: piala dunia dan pemilu! Melihat situasi Indonesia saat ini yang sedang “hangat” dalam berkampanye partai politik, menjelang pemilu 2014 nanti, membuat atmosfir per-partai-an makin sengit dalam bersaing. Baliho-baliho dipasang di sepanjang jalan, dengan foto jumbo sang caleg tentunya, lengkap dengan koar-koar janji manis jika terpilih.

Ah, itu sih lagu lama…

Masyarakat kita sudah bosen akan cara lama berkampanye seperti itu. Banyak cara baru kok. Misalnya, seperti yang diusung salah satu partai, menjadikan pemenang konvensi capresnya oleh salah satu ikon raja musik dangdut yang “melegenda” di negeri ini. Tujuannya ya itu: meraup suara terbanyak. Tapi, kawan, buat apa mendiskusikan roda politik yang berputar tak tentu arah itu.

 Aku hanya ingin berbagi kisah, kawan.
Sebuah kisah, atau lebih tepatnya dongeng, sederhana.



Kisah ini terjadi di sebuah hutan rimba di pedalaman Kalimantan sana.
Nun jauuuh sekali di dalam hutan, melewati semak belukar, rajutan pepohonan.
Suasana yang masih begitu “hijau” dan asri.
Para hewan hidup rukun dan saling gotong royong.

Sebagaimana hutan-hutan pada umumnya, yang tergabung dalam PHH (Persatuan Hutan Hutan) dan perarturan internasional per-hutanrimba-an, di sini juga dipimpin oleh Singa sang raja hutan.
Semua berjalan alami dan baik-baik saja.

Oh, tidak baik-baik saja hingga…
Hingga terjadi suatu kejadian heboh.
Ratusan, atau bahkan ribuan, hewan berkumpul di depan Istana Hutan.
Istana Hutan adalah tempat resmi raja hutan dan para pembesar hutan mengadakan rapat.

Terang saja sang Singa bingung.
Sebagai raja yang bijak, dia memilih untuk menemui rakyatnya.
Di depan Istana hutan, berkumpul belasan badak, lima jerapah, tujuh serigala, dan sepuluh orang utan di barisan depan. Si Ular membawa pengeras suara.
Tidak ketinggalan rombongan zebra, selusin antelop, enam kuda nil, dan pasangan buaya.
Hadir juga cheetah, elang jawa, monyet, perkutut merah, hingga kelinci putih.
Pokoknya buanyak...
Mereka memakai ikat kepala dan membawa spanduk bertuliskan,
“Hidupkan Demokrasi!”.

Singkat cerita, hewan-hewan tersebut ingin mengadakan sistem kepemimpinan yang demokratis di hutan. Tidak melulu Singa sang raja hutan, yang jadi pemimpin.
Raja pun menyanggupi. Dia rela melengserkan tahtanya demi keinginan rakyat.

Sistem demokrasi pun diadakan untuk pertama kalinya.
Pertama kali dalam sejarah hutan di seantero dunia.
Tentu saja melanggar peraturan, tapi ah, biar saja.
Apa salahnya mencoba seperti manusia. Ya tho?

Dua bulan kemudian, terbentuklah dua belas partai.
·         Partai Herbivora Jaya, diketuai oleh Zebra. Pendukungnya adalah mereka yang pro vegetarian.
·         Partai Taring Tajam, dipimpin oleh Macan Tutul.
·         Partai Bijaksana Abadi, diprakarsai oleh Orang Utan.
·         Partai Bulan Bintang yang dipimpin oleh Burung Hantu.
·         Partai Curang Nasional, dengan Tikus Tanah sebagai pemimpin.
·         Partai Merdeka Jaya, yang dikepalai oleh Antelop Cokelat.
·         Partai Hidup Sejahtera, dipimpin oleh Nyamuk Belang.
·         Partai Indah Sentosa, didapuk bersama Kakaktua Jambul Kuning.
·         Dan empat partai lainnya, yang diketuai oleh Monyet Ekor Panjang, Ular Derik,
Belalang Hutan, dan juga Semut Merah Rangrang.

Alhasil, masa kampanye berlangsung seru. Sangat seru!
Koar-koar janji yang diucapkan tidak kalah oleh politisi manusia.
Baliho-baliho dipasang, money politics tak terhindarkan.

Semua pasti akan berjalan baik, pikir semua hewan.
Namun, tidak benar baik-baik saja saat…
Saat sehari menjelang pilpres nasional hutan tiba,
Tiba-tiba semua kandidat dari masing-masing partai melakukan:
Pengunduran diri!
Ya, mengundurkan diri..

Alasannya simpel: Kehidupan di hutan tidak cocok dengan politik!

Sang Singa pun kembali menjadi Raja Hutan.
Dinamika hutan berjalan sebagaimana mestinya.
Hewan-hewan merasa nyaman dengan semua itu.

TAMAT.

Ps: Untuk mendapatkan inspirasi lebih banyak lagi,
Silakan kunjungi pintuduniamu.blogspot.com….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fahmi

Berita politikseptember 2020 Anggota DPR:  HARUS            OPTIMIS  PEMERINTAH  TAK MUNGKIN HANYUT DALAM RESEPSI   Presiden Joko Widodo atau Jokowi menekankan pertumbuhan ekonomi Indonesia harus tumbuh positif pada kuartal III 2020, meski masih ada pandemi Covid -19. Jokowi tak ingin Indonesia jatuh ke jurang resesi. Anggota Komisi XI DPR Melchias Markus Mekeng menilai, hal ini menunjukkan pemerintah tengah membangun optimisme di tengah pandemi Covid 19 ini. Pemerintah tidak mungkin hanyut dalam resesi dengan membangun narasi pesimisme, tetapi harus yakin dengan berbagai kebijakan yang diambil. Dunia ini memang tidak seindah yang dibayangkan atau yang dikatakan. Tetapi kan optimisme harus dibangkitkan. Dia menegaskan, pemerintah tengah berupaya mencegah pertumbuhan ekonomi di kuartal III turun ke minus yang lebih tinggi lagi. Semuanya dilakukan, agar bisa mencapai minus 1 persen atau bahkan bila perlu menjadi positif. Karenanya, pe...

Curhat Seorang Kawan

            Kawan, aku punya cerita... Petang itu, semilir angin masih mau menyapa tempat saya duduk di belakang mushala Ma’had Tahfidh Al-Qur’an Al-Amien Prenduan, masih di bumi Madura tentunya. Semburat merah jingga sudah hilang ditelan waktu, menandakan malam akan tiba. Beberapa santri terlihat masih serius berkutat dengan ayat-ayat al-qur’an, sebagian lainnya memilih untuk melamun. Rasa syukur menyeruak, mengingat masih mampu menikmati dinamika kehidupan yang lekat dengan al-qur’an dan kesempatan untuk merenungi maknanya. Saya masih terduduk dengan mushaf di tangan, sembari membacanya perlahan. Sambil menikmati suasana petang itu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh teman satu angkatan (kelas akhir) yang duduk di samping saya. Menatap saya lekat, seraya berkata “Vis, gimana nih? Aku bingung. Aku ngerasa berat dalam hal ngulang hafalanku. Satu halaman aja butuh konsentrasi tinggi, susah pokoknya.” “Kamu target selesa...

Memang, Otak itu Superr...!

     Beberapa kali  saya baca bukunya Agus Mustofa, penulis yang katanya kontroversial itu lho, membuat saya jadi makin sadar kalau pengetahuanku itu dikiiit sekali. Memang ada yang bilang, 'semakin banyak kita tahu, semakin kita tahu bahwa dikit yang kiata tahu'. Hmmm... Ada benernya juga ya.      Yah, ilmuNya memang sangat luas. Bayangin, kita dikasih 'secuil' daging yang bernama otak itu sudah luar biasa hebatnya. Melebihi processor manapun! Itu aja sudah bisa mikir, bayangin, imajinasinya malah kemana-mana. Weleh-weleh... Subhanallah ya... ( bersambung .....)